SANGAT ramai dengan unggahan artis Nathalie Holscher yang mempertontonkan uang hasil saweran kala menjadi bintang tamu di acara bos tambang di Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Nilainya cukup fantastik yakni lebih dari Rp 500juta hanya untuk tampil 3-4 jam saja. Itu belum termasuk dengan fee ketika menjadi Dj, pasti lebih besar lagi nilainya.
Tapi dibalik foya-foya masyarakat di Ratatotok yang didominasi oleh masyarakat tambang atau bos-bos tambang disana. Ada fenomena yang unit di wilayah Minahasa Utara.
Dimana dari data BPS tahun 2023, Kabupaten Minahasa Tenggara saat ini menempati peringkat sembilan dengan jumlah penduduk terbanyak di Provinsi Sulawesi Utara dengan jumlah 118.023 Jiwa. Dan kecamatan Ratatotok menyumbang angka 14.472 jiwa. Kabupaten Minahasa Tenggara mengalami tren yang cukup baik.
Pada tahun 2012, kemiskinan di Kabupaten Minahasa Tenggara menyentuh angka 14,24 persen yang kemudian naik ke angka 16,1 persen pada tahun 2013, pada tahun 2014, persentase kemiskinan sempat turun ke angka 15,76 persen tetapi sempat naik lagi ke angka 15,88 persen di tahun 2015. Sejak kenaikan tersebut, pada tahun-tahun berikutnya, persentase kemiskinan di Kabupaten Minahasa Tenggara terus mengalami penurunan secara perlahan walaupun sempat mengalami kenaikan di tahun 2021 ke angka 12,47 persen dari tahun sebelumya yang berada di angka 12,3 persen kemudian mengalami penurunan lagi di tahun 2022 di angka 11,78 persen.
Namun penurunan persentase kemiskinan selama 2015 ke 2022 masih berada di atas angka provinsi.
Artinya, Kabupaten Minahasa Tenggara menyumbang bertambahnya angka kemiskinan. Tentunya hal ini mengindikasikan bahwa program pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara selama 5 tahun terakhir sudah cukup baik namun belum maksimal. Cukup tingginya angka kemiskinan yang masih terjadi di Kabupaten Minahasa Tenggara tentu membutuhkan upaya yang keras dari berbagai pihak untuk menanggulanginya.
Dari berbagai refensi yang diolah penulis, pendapatan terbesar masyarakat disana adalah dengan tambang emas. Tapi sebagian besar tambangnya ilegal. Dan pendapatan bos-bos tambang disana juga sangat besar. Terbukti beberapa acara, mereka bisa menyawar artis-arti yang mereka undang hingga ratusan juga.
Dengan fenomena yang terjadi belakangan di Sulewesi Utara, Gorontalo sebagai provinsi tetangga, penulis menyarankan agar masyarakat Gorontalo jangan memperlihatkan kondisi ini kepada masyarakat kita. Apalagi bos-bos tambang terlibat di dalamnya. Jangan!
Kenapa? Perlu diingat, tambang-tambang liar dan ilegal yang menghasilkan duit para bos-bos tambang di Gorontalo itu sudah merusak lingkungan Gorontalo. Di Pohuwato misalnya, hujan sebentar. Banjir bandang menimpa masyarakat disana. Seperti yang terjadi di Paguat, Lemito, Wanggarasi, Randangan, dan Taluditi 20 Juni 2025 lalu. Setidaknya 340 rumah dan satu tempat ibadah rusak. Tidak hanya itu, 2 warga meninggal dan satu dinyatakan hilang. Begitu juga di wilayah Bone Bolango. Tambang rakyat vs tambang perusahaan saling adu untuk mempertahankan lahan garapan mereka.







