SECANGKIR kopi hitam yang sudah dingin diteguk Syafrudin Matani. Tegukan kopi yang tinggal separuh cangkir itu mengakhiri pembicaraannya dengan empat rekannya sesama sopir truk, Rabu (18/10/2023) pukul 21.45 WITA. Di warung kecil yang berada di tepi Jalan Sudirman, Kelurahan Limba U II, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo.
Wajah Udin (sapaan Syafrudin) terlihat begitu capek. Matanya sayu. Mulutnya beberapa kali menguap panjang. Kakinya seakan tak kuat lagi menopang tubuhnya. Sepanjang hari, Udin berjibaku dengan kemudi truknya. Bolak balik mengantar material timbunan ke lokasi proyek. Menyusuri jalan berdebu di bawah terik matahari Kota Gorontalo.
Sejatinya selepas adzan magrib berkumandang, Udin sudah kembali pulang. Berkumpul dengan anak istri menyantap makan malam. Tapi malam itu, Udin harus merelakan kesempatan makan malam bersama berkeluarga terlewatkan.
Dari lokasi proyek, Udin tak langsung pulang rumah. Ia dan sesama rekan sopir harus menunggu hingga pukul 22.00 WITA. Sebab di jam tersebut, Udin dan para sopir-sopir truk akan mengambil nomor antrean pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 73.964.07 milik PT. Emdem Putra Abadi yang beralamat di Jl. Sudirman, Kelurahan Limba UII, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo.
Udin maupun para sopir truk lainnya harus mengambil nomor antrean terlebih dahulu pada malam hari untuk melakukan pengisian esok harinya, agar antrean truk tak mengular dan menganggu aktivitas masyarakat.
Bila tak mengambil nomor antrean, maka pihak SPBU tidak akan melayani pengisian. Kewajiban mengambil nomor antrean ini merupakan kesepakatan pengelola SBPU dengan para sopir truk. Kebijakan ini diambil agar solar yang merupakan BBM bersubsidi penyalurannya tetap sasaran dan tidak disalahgunakan.
“Dalam seminggu kami sopir truk mendapatkan jatah dua atau tiga kali untuk mengisi solar di sini (SPBU Sudirman). Kalau hari-hari kami mengisi, dipastikan kami tidak dilayani. Karena penanggung jawab sudah hafal dengan wajah-wajah kami dan tak ada sopir truk dalam sehari dua kali mengantre, itu tidak dilayani,” ucap Udin ketika berbicara dengan gopos.id, Rabu (18/10/2023).
Sudah lebih dari 15 tahun Udin menjalani pekerjaan sebagai sopir dump truk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dalam rentang belasan tahun tersebut, Udin beberapa kali mengalami masa-masa sulit.
Selain pendapatan yang berkurang akibat permintaan jasanya pengangkutan material ke lokasi proyek menurun, Udin juga menghadapi susahnya mendapatkan BBM jenis solar. Bagi Udin, solar sangat vital. Tanpa solar, dump truknya tak bisa beroperasi. Otomatis dapurnya tak bisa ngebul karena tak ada pendapatan.
Pria 57 tahun ini menceritakan pengalamannya saat masa-masa sulit mendapatkan solar. Ia harus antre hingga dua hari lamanya untuk mendapatkan solar. Situasi itu dialami Udin karena pembelian solar belum dilakukan penataan dan pengaturan. Dalam artian, siapa yang antre duluan maka dia yang dapat jatah. Jumlah pembelian pun tak dibatasi, akibatnya jatah solar di setiap SPBU langsung ludes hanya dalam beberapa jam.

Situasi sulitnya mendapatkan BBM solar pernah pula dialami pengemudi truk lainnya, Rahmat. Antrean panjang truk yang hendak mengisi solar, dan jatah solar yang cepat habis menimbulkan kepanikan. Terutama di kalangan pengemudi truk.
“Kadang, ketika sudah di antrian saya, tiba-tiba solarnya habis. Mau tidak mau, saya harus balik lagi dan tidak narik,” kata Rahmat dengan dialeg Gorontalo.
Kepedihan makin dirasakan para sopir truk ketika di antara deretan truk yang antre ada sejumlah mobil mewah yang ikut antre untuk mendapatkan solar. Padahal mobil tersebut seharusnya menggunakan solar nonsubsidi. Selain itu ulah nakal segelintir oknum operator yang mengizinkan pembelian menggunakan galon. Hal itu menambah panjang antrean kendaraan sekaligus mempercepat habisnya stok solar di SPBU.
Cerita sedih para sopir truk itu perlahan sirna ketika mulai diterapkannya digitalisasi pembelian solar. Menggunakan QRcode MyPertamina. Kebijakan yang secara massif diterapkan pada awal 2023 ini membuat para pemilik dan pengemudi truk menjadi lebih mudah mendapatkan solar bersubsidi.
“Sekarang sudah bagus pak. Sudah terkontrol orang-orang yang pakai solar. Kalau dulu, sekitar dua tahun lalu, saya harus ngantre dari malam sampai besoknya untuk mendapatkan solar. Itupun kalau solarnya belum habis,” tutur Rahmat.
“Bandingkan sekarang pak. Sudah tidak ada lagi antrean yang panjang-panjang itu. Setiap kami diharuskan menggunakan QRcode MyPertamina dan terdata. Ini sudah bagus, terkontrol. Tidak ada mobil atau truk yang balik SPBU ulang-ulang kali atau ada oknum masyarakat yang pakai galon,” bebernya.
Khusus di SPBU Sudirman, Rahmat malah memberi apresiasi, sebab sejak dua tahun lalu pihak pengelola SPBU telah mengatur para sopir untuk mendapatkan jatah solar dengan menggunakan nomor antrean. Sehingga setiap sopir truk, dumtruk hingga konteiner tak lagi memarkirkan kendaraannya di area SPBU yang menimbulkan antrean panjang dan gangguan terhadap lalu lintas. Ditambah dengan sekarang ini, penggunaan QRcode melalui aplikasi MyPertamina memberikan kenyamanan bagi para sopir untuk mendapatkan solar.
“Hati sudah tidak was-was lagi. Kita tahu kapan kita harus membeli BBM. Biasanya jika hari ini kami isi, dua atau tiga hari berikutnya kita isi lagi. Karena sekali isi itu kami mendapatkan jatah 80-100 liter. Ini sudah lebih dari cukup,” paparnya.
Rahmat tak sendirian, Toni Naue mengalami kondisi serupa. Sebagai pemilik unit dump truk, Toni sering kali menggantikan sopirnya antre nomor pengisian BBM.
Menurut Toni, kondisi sekarang sangat baik bagi kalangan sopir yang kesehariannya bergantung kepada permintaan material proyek. Sebab jika tak ada solar, maka mereka tidak bisa beroperasi dan tidak mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan harian mereka.
Toni mengatakan di SPBU Sudirman penerapan antrean nomor yang diambil sejak malam adalah langkah yang positif. Mereka sudah bisa memperkirakan pukul berapa harus datang ke SPBU untuk mengambil BBM.
Jika tak dibuat seperti itu, kondisi antrean panjang bisa terjadi. Ia berharap konsep ini bisa ditiru oleh SPBU lainnya, untuk memungkinkan kebutuhan BBM khususnya solar di Gorontalo bisa tercukupi dan tidak disalahgunakan.
“Sudah lebih ringan kita, sudah tau kalau saya nomor 11 saya datang ke SPBU jam sekian. Tidak ada antrean panjang. Dan kami yang dapat nomor antrean juga memahami kondisi pengguna lain. Jadi jika ada mobil box antar daerah, kita mengerti dan kami antrean bersama-sama. Mereka ada jalur sendiri, dan ini tidak menjadi masalah bagi kami,” ucap Tomi, Rabu malam.
Dengan digitalisasi pembelian BBM dengan menggunakan MyPertamina, Tomi melihat ini menjadi langkah maju dari Pertamina. Selain pembelian terkontrol, para sopir truk bisa lebih melek digital. Sebelumnya kebanyakan sopir-sopir truk di Gorontalo menggunakan handphone sebatas berkomunikasi (telpon dan sms).
“Sekarang sudah ada WhatsApp grup. Jadi apa-apa kami infokan disitu. Jadi kalau dulu hanya telepon biasa, sekarang mereka sudah biasa main media sosial (Medsos). Itu karena mereka mau tidak mau harus menggunakan aplikasi MyPertamina untuk transaksi. Barkodenya di situ. Bagus sih! Ada opa-opa (sopir truk yang sudah tua-red) sambil menunggu, mereka tertawa-tertawa sendiri nonton video melalui Smartphone mereka” sambungnya sambil tertawa.
Tak Lagi Antre Sejak My Pertamina Diberlakukan

Kebutuhan BBM sejak adanya kebijakan subsidi BBM Tepat Sasaran memberikan kondisi real. Antrean panjang yang biasanya terjadi di ruas-ruas jalan sekitar SPBU kini sudah tidak ada lagi. Jika ada, maka SPBU itu memberikan ruang yang sama kepada para sopir untuk antrean dalam mengisi solar.
Dihari yang sama, Rifay, Penanggung Jawab SPBU Sudirman, mengatakan kebijakan pengambilan nomor sudah dilakukan sejak dua tahun lalu, sebelum subsidi BBM tepat sasaran dan MyPertamina diberlakukan. Menurutnya kondisi antrean di sepanjang jalan Sudirman Kota Gorontalo sangat menganggu aktivitas pengguna jalan. Apalagi yang melakukan antrean adalah mobil-mobil besar yang sudah memakan sebagian bahu jalan raya.
Ia lalu berinisiatif menerapkan nomor antrean yang diambil dari malam di kantor SPBU Sudirman. Ia mengintruksikan kepada sopir untuk tidak parkir mobil di jalan raya. Jika ada yang mobil parkir, maka besoknya tidak akan dilayani. Karena seluruhnya sudah by nomor antrean.
“Ada beberapa cara saya lakukan. Paling efektif dengan pengambilan nomor antrean. Itu diterima para sopir truk. Kami lakukan ini demi kebaikan kita semua. Alasan saya menerapkan itu agar tidak ada antrean mobil di jalan raya. Menganggu!,” paparnya.
Digitalisasi penggunaan MyPertamina terhadap para sopir pun diterapkan. Itu sejak sistem barcode diberlakukan. Para sopir truk kaget dan harus melakukan transisi. Sebab menurut para sopir, khususnya mereka yang sudah usia senja dan tidak memiliki smartphone atau ponsel pintar. Menggunakan MyPertamina cukup susah. Sopir diharuskan foto diri, foto jenis mobil, foto STNK mobil. Namun kebijakan ini harus diterapkan agar penggunaan BBM tepat sasaran.
Menurut Rifay, awalnya banyak sopir yang belum menerima. Tetapi lambat laun mereka mulai menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Perubahan tersebut diawali dengan bantuan pendaftaran akun para sopir oleh petugas SPBU. Menggunakan email pegawai SPBU, satu Qrkode bisa dipakai ramai-ramai.
Tetapi masalah timbul ketika pemilik mobil mengganti plat nomor mereka, otomatis harus mengganti barkode sesuai dengan plat nomor. Masuk ke akun ribet karena email tidak sesuai dengan pendaftaran awal. Para sopir harus membuat akun baru dengan menggunakan email mereka.
Apalagi kondisi sekarang sudah lebih ketat dari sebelumnya karena adanya pembaruan yang terus dilakukan MyPertamina. Perlahan para sopir truk tersebut mengikuti ketentuan yang telah diatur dan saat ini sebagian besar sopir truk yang melakukan antrean di SPBU itu sudah memiliki barkode mereka sendiri.
“Jika ada sopir truk yang menunjukkan barkode tidak sesuai plat nomor mereka kita tidak layani. Itu sudah menjadi kebijakan pusat yang harus kami ikuti. Jika tidak, kami juga bakal kena sanksi. Kami menyampaikan itu kepada para sopir dan mereka allhamdulillah paham dan mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan,” jelas Rifay.
Dalam sehari SPBU Sudirman mendapatkan jatah solar dari Pertamina sebanyak 8.000 liter. Angka ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan di SPBU Sudirman. Sebab menurutnya dalam kondisi tertentu solar tidak habis dan bisa tersisa. Sebab puncak-puncak ramai permintaan solar ketika proyek-proyek daerah sedang berjalan.
“Permintaan banyak dari dumtruk karena mereka melayani permintaan jasa angkut material, sehingga sehari itu bisa habis. Terkadang juga solar kami tersisa karena sunyi mobil-mobil pengangkut material. Kondisi sekarang sudah lebih bagus karena sejak diberlakukan MyPertamina sudah tidak antrean lagi,” imbuh pria 43 tahun itu.
Dengan menggunakan aplikasi MyPertamina dikatakan Rifay bahwa terdapat ketentuan untuk pengisian BBM bagi mobil. Untuk kendaraan roda empat pribadi dibatasi maksimal hingga 60 liter per hari. Sedangkan angkutan umum orang atau barang roda empat sebanyak 80 liter per hari dan untuk angkutan umum roda enam sebanyak 200 liter per hari.
“Dengan syarat tidak boleh menggunakan galon. Silahkan mobil truk isi full, paling 80 sampai 100 liter. Sisanya mereka harus menunggu waktu antrean kembali dua atau tiga hari berikutnya. Ketentuan itu berlaku jika mereka mobil antar Provinsi. Jadi disini mereka isi full, kemudian mereka berjalan sudah di Provinsi lain, mereka bisa antre untuk mengisi BBM mereka. Tappi untuk wilayah Gorontalo, cukup sekali isi,” jelasnya.
Subsidi BBM Tepat Sasaran Bikin Sopir Truk Rasa Nyaman

Udin, Rahmad dan Toni benar-benar merasakan kenyamanan dari kebijakan subsidi BBM tepat sasaran. Mereka tak perlu khawatir lagi harus antre berjam-jam hanya untuk mendapatkan solar. Sekarang, selain solar mudah ditemukan, antrean di pelbagai SPBU tak lagi sepanjang dulu. Apalagi di beberapa SPBU yang mereka jumpai sudah terdapat aparat kepolisian yang turut mengontrol distribusi BBM ke konsumen.
Dihubungi terpisah, Staf Humas Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Romi menjelaskan untuk kota Gorontalo tersebar delapan SPBU dengan jumlah kouta BBM yang sama antara satu sama lainnya. Untuk membuat kebutuhan tercukupi, khususnya bagi para sopir truk maka penggunaan subsidi BBM tepat sasaran diberlakukan dan diawasi dengan ketat.
Menurutnya pengguna solar wajib mempunyai QRCode melalui aplikasi MyPertamina. Sebab ini adalah upaya pertamina dalam mengoptimalkan bisnis proses dengan teknologi terdepan.
“Di Kota Gorontalo terdapat dua SPBU yang masih menerapkan nomor antrean bagi pengguna solar, untuk pengambilan nomor antrean terjadi pada malam hari agar tidak terjadi penumpukan mobil di pagi hari. Ini tentu sangat bagus dan kami melihat bahwa tidak ada lagi penumpukan kendaraan disepanjang SPBU-SPBU ini,” kata Romi yang dikonfirmasi via WhatsApp, Senin (23/10/2023).
Pertamina sendiri menyediakan solar sesuai dengan alokasi dari BPH Migas. Ia juga mengapresiasi para pemilik SPBU yang sudah menerapkan ketentuan sesuai prosedur untuk menerapkan QRCode di setiap pengisian BBM dan tentunya harus sesuai dengan plat nomor dari masing-masing konsumen.
“Sudah bagus, kendaraan pengguna solar sudah tidak ada penumpukan lagi di jalan raya, karena SPBU di Gorontalo sudah menjalankan sesuai dengan prosedur. Sejak subsidi BBM tepat sasaran diberlakukan, Gorontalo sudah 100 persen wajib scan QRCode dan bagi pengguna solar harus memiliki QRCode. Jika belum terdaftar, konsumen harus mendaftar terlebih dahulu agar memiliki QRCode. Sejauh ini kami belum menemukan adanya laporan penyalahgunaan barcode,” beber Romi.
“Saya berharap Gorontalo menjadi contoh bagi daerah-daerah lain dalam penerapan kebijakan subsidi BBM tepat sasaran,” tandasnya.(*)
Penulis: A Muhammad Yusuf Aulia Arifuddin
sama aja, my pertamina tidak berlaku untuk Sepeda Motor, coba saja beli BBM Bersubsidi pake My pertamina Pasti oleh petugasnya di Jawab “Belum Bisa” selalu jawabanya begitu.. atau coba Wartawan Investigasi Survey beli BBM SPBU pake My pertamina pasti jawabannya “Belum bisa”