GOPOS.ID, BATUDAA – Seperti tahun-tahun sebelumnya, pertengahan bulan Ramadan, masyarakat Batudaa dan sekitarnya selalu menyemarakkan malam qunut dengan tradisi unik. Dimana terdapat banyak jajanan pisang dan kacang, sekaligus sebagai tanda bahwa Ramadan sudah memasuki separoh perjalanan.
Tradisi ini memang patut dilestarikan, selain karena potensi pariwisata yang luar biasa, pada malam qunut ini juga menjadi ajang silatuhrahmi antar masyarakat. Tradisi yang sudah ada sejak turun temurun dan kini sudah dibuatkan sebagai agenda rutin tahunan.
Bahkan gebyar qunut selalu ramai dikunjungi, baik masyarakat di kabupaten Gorontalo, maupun daerah-daerah tetangga lainnya sambil memakan pisang dan kacang.
Menurut Yanti salah satu pengunjung menuturkan bahwa dirinya merasa senang bisa ikut meramaikan tradisi yang unik yang ada di Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo. Tak hanya itu, ia pun ikut membeli pisang dan kacang yang dijual.
“Saya senang bisa meramaikan tradisi yang unik ini. Saya juga dan beberapa teman membeli pisang dan kacang yang dijual oleh pedagang,” kata Yanti pada kegiatan Gebyar Ramadan di Lapangan Porbat, Payunga, Batudaa, Senin (20/05/2019).
Baca juga : BPOM Gorontalo Kampanye Pangan Aman di Bulan Ramadan
Sampai dengan pukul 00.00 WITA, masi banyak masyarakat yang silih berganti datang untuk ikut meramaikan gebyar qunut ini.
Nah untuk pisang dan kacang yang dijual pedagang, dihargai dengan harga Rp 10 ribu perliter untuk kacang dan Rp 15 ribu persisir untuk pisang.
“Kami menjual pisang dengan harga Rp 15 ribu persisir dan Rp 10 perliter untuk kacang dan tentunya pengunjung disini antusias membeli kacang dan pisang yang kami jual,” beber salah satu pedagang.

Mengulas sedikit tentang malam qunut. Konon katanya pasangan kacang dan pisang ini mengandung filosofi yang kuat untuk peradaban di Gorontalo. Ada beberapa versi mengenai asal mula tradisi malam qunut. Sebagian masyarakat menyebutkan, tradisi itu bermula dari kebiasaan masyarakat Batudaa pada malam pertengahan Ramadan yang sering mandi usai salat Tarawih.
Masyarakat di wilayah sekitar Batudaa ikut melaksanakan tradisi serupa, sehingga jumlah warga yang ingin melaksanakan mandi itu semakin banyak. Nah, saat menunggu giliran mandi, sebagian warga menyiapkan camilan berupa kacang dan pisang.
Baca juga : Pertamina Pastikan Stok BBM dan Elpiji di Gorontalo Aman Sepanjang Ramadan
Camilan tersebut rupanya dinikmati warga. Seiring dengan bergulirnya waktu, ritual itu (mandi, Red) mulai hilang dan yang bertahan sampai sekarang hanyalah tradisi makan kacang dan pisang. Ini disebabkan para sesepuh saat itu telah wafat. Tidak ada penerusnya. (muhajir/gopos)