GOPOS.ID, KOTA GORONTALO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah terus berjalan di berbagai satuan pendidikan, termasuk di SMK Tri Dharma. Meski sempat menghadapi kendala teknis di awal Ramadan, kini penyaluran MBG di sekolah tersebut berlangsung lancar dan terstruktur.
Kepala SMK Tri Dharma, Nurfajriyati Massa, S.Pd., menjelaskan bahwa mekanisme distribusi dilakukan sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Makanan dikirim dari Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) ke sekolah dan diturunkan di satu titik khusus sebagai lokasi transit sebelum dibagikan kepada penerima.
“Pembagian dilakukan setiap pukul 13.00 WITA, bertepatan dengan jam pulang sekolah, sehingga siswa bisa langsung membawa paket makanan ke rumah,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).
Menu yang dibagikan terdiri dari makanan kering, kue, buah, telur, dan susu. Variasi menu dibuat berbeda setiap hari guna menghindari kebosanan siswa. Khusus pada awal Ramadan, diterapkan sistem rapel. Menu Senin, Selasa, dan Rabu dibagikan sekaligus pada hari Senin. Sementara menu Kamis tetap dibagikan pada hari yang sama, dan menu Jumat dirapel bersama menu Sabtu.
Setiap porsi MBG memiliki nilai total Rp15.000. Rinciannya, Rp10.000 untuk makan besar dan Rp. 8.000 untuk makan kecil dan Rp5.000 untuk biaya operasional di SPPG. Seluruh kemasan juga telah dilengkapi catatan kadar gizi dan rincian harga.
“Di SMK Tri Dharma, total penerima MBG mencapai 147 orang, yang mencakup seluruh siswa dan guru.,” Katanya
Untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga, pihak sekolah membentuk tim khusus yang bertugas menerima dan memeriksa makanan saat mobil pengantar tiba. Selama Ramadan, uji dilakukan dengan memeriksa warna dan aroma tanpa mencicipi rasa.
“Pada hari pertama Ramadan memang sempat ada kendala teknis karena sistem rapel tiga hari. Namun setelah itu, distribusi berjalan lancar,” jelas Nurfajriyati.
Ia menambahkan, sekolah juga aktif berkoordinasi dengan dengan SPPG apabila muncul kendala di lapangan. Menurutnya, kualitas kemasan sudah baik dan aman sehingga memudahkan siswa membawa makanan pulang.
Nurfajriyati menegaskan bahwa MBG merupakan program prioritas pemerintah yang membutuhkan dukungan bersama. Jika masih ditemukan kekurangan teknis seperti keterlambatan, hal tersebut dinilai sebagai faktor manusiawi, mengingat skala produksi yang mencapai ribuan porsi setiap harinya.
“Pada prinsipnya kami mendukung penuh program ini demi pemenuhan gizi peserta didik,” pungkasnya. (WinangMG/Rama/Gopos)








